“Matahariku Tak Sudi Bersinar”
Menangis melihat tingkah laku kita
Seolah tak bisa berbuat apa
Selain meredupkan sinarnya
Sebagai tanda kepedihan
Kau rasakan jiwa-jiwa ini, lalu kau bersedih
Kau saksikan tingkah-tingkah ini sampai tak bergeming
Kau dengar jeritan-jeritan ini, lalu akhirnya kau menangis
Hingga mata indah itu kau tutupi
Karna tak sanggup lagi melihat raja keji
Tapi sinarku, mohon jangan kau jadi kelabu
Tak lagi mau menyinari
Tak lagi mau ada untuk kami
Tuhanku,
Kalau matahariMu saja menangis
Mungkinkah ku bisa tersenyum manis?
Rasanya tak mungkin!
Karena sikap kita yang begitu bengis
Membuatnya selalu ingin menangis
(S23,jakarta 04-04-07)